Perkataan adalah doa
“Jika kau ingin saya menulis banyak tentangmu, patahkan hatiku.”
Kau memang benar-benar ingin menjadi bagian tulisanku. Maka dari itu, kuberi selamat! Hatiku patah dengan tepat. Sudah sejauh ini, sayapun baru bertanya “Siapkah bersamaku?”.
Desember memang selalu identik dengan perpisahan. Dan pada saat itulah, kau meyakinkan dirimu bahwa kau tidak siap.
Dengan rasa hormat, kuberitahu kau sekali lagi. Untuk tiba pada hatimu saya mematahkan hatiku berkali-kali, hanya untuk berharap bisa menjadi yang terbaik bagi siapapun yg bersamaku kelak. Lalu untuk apa kalau memang tidak siap?
Semoga kau paham perihal menerimamu sejak awal butuh sebulan lamanya, berjam-jam durasinya, seberantakannya otakku kudedikasikan untuk berpikir, yakin, merobohkan perbentengan, menyusun ulang kepercayaan dan kita hancur hanya dengan persoalan “tidak siap”.
Tuhan, pertemuan ini lantas harus saya jadikan apa selain luka?