Left Unsaid

Saya adalah pelupa terbaik di muka bumi ini. Maka kali ini saya menulis bukan karena saya kehilangan. Melainkan untuk mengasah kembali ingatan bahwa faktanya saya kembali lagi, sebegitunya menyayangi seseorang.
Pintu saya diketuk. Tuan datang bertamu dan memintaku untuk kembali keorbit. Sebab kau tau, 9 bulan lamanya pintuku tertutup dan aku memutuskan untuk menerima tamu tanpa membuka pintu. Kau datang menyuguhkan bingkisan yang bernama kepercayaan. Hingga tiba pada kau berhasil merobohkan segala benteng dan membuka pintu lalu menggenggam tanganku keluar dan berkata “dunia luar tidak sejahat apa yang kau kira”.
Semenjak itu, saya kini mencintai langit. Setiap warna yang berbeda selalu mengingatkan pada setiap pertikaian kita dijalan. Langit selalu bisa menjadi teduh jika perang dingin mulai meluap. Semisal “liat langit, warnanya bagus hari ini” sialnya saya lalu tersenyum dan lupa bahwa tadi saya memutuskan untuk mendiamimu. Masih berpikir bahagiaku tidak sederhana?
Semenjak itu, saya kini berani mengunjungi beberapa tempat. Lupa kalau beberapa bulan yang lalu saya selalu menghindari sudut kota dan baru menyadari bahwa lampu kota adalah pemandangan yang cukup menarik. Masih berpikir bahwa kau tidak lebih baik dari pria sebelummu?
Semenjak itu, saya baru merasakan apa rasanya menutup mata selagi masih diatas motor dan menemukan ketenangan yang lain dibanding suara mesin mobil. Masih berpikir saya selalu meragukan keahlianmu berkendara?
Semenjak itu, saya percaya saya bisa melakukan hal yang lebih dibanding duduk dirumah sambil mengukur seberapa kecil kemungkinan tahun ini saya bertemu sapa dengan jarum infus. Masih berpikir saya tidak mencoba berproses?
Semenjak itu, saya kini selalu menceritakan dan menunjukkan sisi terburuk yang terjadi selama beberapa siklus. Masih berpikir bahwa kau bukan tempat pertama saya mengadu?
Semenjak itu, saya tidak lagi memandangi hujan dibalik dinding melainkan kini saya berada diantaranya dan saya bersyukur akan itu. Masih merasa bersalah membuatku basah kuyup dan menyalahkan dirimu karena itu masalah kendaraan?
Kuingatkan sekali lagi, saya adalah pelupa terbaik di muka bumi ini. Saya lupa bahwa langit bisa saja mendung dan kelabu. Sialnya, perjalanan pulangku bersama orang lain selalu dipayungi langit abu-abu. Seakan memberi isyarat bahwa kita diambang kehancuran. Saya lupa bahwa mengunjungi segala tempat denganmu adalah cara terhalus membunuh diri. Sebab tidak ada sedikit celah untuk menghelas nafas bahwa tempat itu pernah menjadi bagianmu. Saya lupa bahwa saya tidak perlu takut akan jatuh dari motor melainkan harusnya saya berhati-hati pada men-jatuh-kan hati, padamu. Saya lupa bahwa berproses adalah pisau yang selama ini kuasah dan bisa saja mengirisku. Bahwa pada setiap kegiatan akan selalu bergantung atas namamu, dijemput dan diantar pulang misalnya. Saya lupa bahwa hujan selalu bisa memutar kembali gulungan ingatan. Dan saya lupa, bukan dunia luar yang jahat melainkan kamu. Dari semua itu, ketahuilah bahwa aku selalu menempatkan kebahagiaanmu pada bagian teratas. Sejauh ini, kau telah mengambil keputusan dan bebas kemana saja sedangkan saya masih ditempat yang sama.

Postingan populer dari blog ini

Duniamu-

Perkataan adalah doa