Kepada, diriku sendiri.

11 Maret 2018, kau kembali menatap cermin dan ini untuk ke-seribu-kali-nya kau menangisi luka yang kau buat sendiri. Untuk kesekian kalinya, kau membaca matamu sendiri dan membuat pelupuknya berair. Kau melihat refleksimu sendiri dan menangisi dirimu yang tidak mampu menyembuhkan lukamu sendiri. Kamu ini bodoh.
Kau bilang desember selalu melekat dengan langit abu-abu. Desember sudah berlalu 2 bulan lamanya sementara kepergian masih begitu hangat memelukmu; dengan sangat. Desember akan tetap menjadi desember yang mendung, maka jangan membawa bulan yang lainnya kelabu. Kau terlalu jahat dengan dirimu sendiri, itulah mengapa kau masih bisa saja dilukai oleh siapapun.
10 bulan yang lalu kau berjanji membangun benteng yang megah. Memutuskan untuk tidak membiarkan siapapun menerobos. Lalu tiba pada kau hanya diketuk, kau merobohkannya bata demi bata. Kaukah yang terlalu lemah atau diakah yang terlalu bedebah? Harusnya kau paham, kau terluka karena keputusan yang kau ambil sendiri dan kini kau meraung-raung seakan mencari si kambing hitam.
Teruntuk diriku sendiri,
Sudah berkali-kali kau terluka dengan alasan yang sama dengan orang yang berbeda. Beribu kali kau berjanji, tidak jatuh pada lubang yang sama. Tidak akan pernah ada yang benar-benar mampu menyembuhkanmu. Kau seakan ditakdirkan untuk selalu mencicipi luka lamamu, sendiri. Maka dari itu, berhentilah menitipkan hatimu; sekali lagi.
Dari,
Aku; sisimu yang lain.

Postingan populer dari blog ini

Left Unsaid

Duniamu-

Perkataan adalah doa