Falling In Love At Chatime//

“I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while I never knew”
Semoga selera kita sama. Entah itu musik ataupun buku. Nampaknya tidak untuk pasangan karena dibuktikan kita tidak pernah bisa menyatu.
Berambut ombak, bertubuh tegak, berkulit putih dan bermata……..tuan maaf saya lupa warna retinamu. Tunggu, saya lupa atau saya memang tidak pernah berani menatapmu?
“Liat mataku” katamu.
Haha okay saya memang tidak pernah berani menatap kedalam sana. Yang kutahu, aku akan tenggelam jauh jika berani melakukan itu. Sudah hampir satu tahun kita benar-benar memutuskan untuk saling menjauh. Tidak ada kau, aku dan kita. Kau pernah berkata “Siapa yang tahu saya dikirim tuhan untukmu sebagai media penasihat atau apapun itu”. Lalu jika kau adalah penyebab saya tidak berani menyentuh chatime waktu petang di hari kerja, gramedia pada waktu duhur dihari libur, fort rotterdam pada setiap event, fakultas ekonomi pada hari kuliah, masihkah kau berani menyebut dirimu kiriman tuhan sebagai media itu? saya malah yakin kau adalah suatu kesalahan yang tidak mampu untuk saya perbaiki. Perang dingin akan selalu meletus tiap kali kita menyambung komunikasi. Sayakah yang tidak ingin mengerti atau dirimukah yang tidak pernah menyatukan paham? percayalah, saya menulis ini dengan degub tidak beraturan.
Tuan, mungkin kita telah lama usai. Menghapus kontak satu sama lain adalah jalan terbaik, terkecuali jika kau masih menyimpan whatsappku. Tetapi izinkan saya menjawab pertanyaan yang tak pernah bisa saya jawab dihadapanmu.
Saya pernah sebegitu rumitnya mencintaimu. Mencintai pria yang tak pernah bisa ku bedah isi kepalanya. Ya saya pernah mencintaimu, 4 tahun lamanya.
“Bagaimana dengan si-anak-futsal yang kau idam-idamkan masa SMA”
Dia hanya senior yang kumasukkan dalam list sebab akun twittermu tidak berhenti menandai akun perempuan. Iya, akunmu serta teman-temanmu selalu saya pantau dari jauh. Salahku yang menebak? tak maukah kau merasa bersalah karena kau tidak pernah datang meyakinkan?. Masih butuh penjelasan? Dilan 1 & 2 serta buku rindu tereliye kubeli sepaket setelah kau menyarankannya untukmu. Segila itu saya menghabiskan ratusan ribu sebab kau terlibat didalamnya dan kau masih meragukan masihkah kau atau ada yang lain.
Lalu, kenapa saya selalu menolak kita bertemu? sebab pertemuan kedua di jogging track menyebabkan pondasi terkuat saya rubuh sepersekian detik. Saya mencintai rambut berombakmu yang lebat, mengagumi kulit putih susu milikmu, mengenal baik mata sipitmu kala kau tersenyum unjuk gingsul dan kau menemuiku seperti itu. Kau berhasil mengembalikan rasa dan menyadarkan bahwa yang kulakukan selama ini adalah membohongi hatiku sendiri. 
Mari memutar kembali ingatan. Kau merayu untuk bertemu sebab dalam waktu dekat harus KKN. Jaket Manchester United berpadu celana jeans serta sepatu sneakers duduk dengan tenang dipinggir track. Kupikir kita bisa meredam perang dingin hingga saya lupa pertemuan ini adalah luka yang nampaknya selalu kusesali. Kita nyatanya hanya sekedar bertemu. KKN dikampung halamanku hanya sebagian kecil alasan bahwa saya pernah menjadi bagian dirimu dan almost is never enough. Menghubungiku beberapa kali juga tidak bisa dikatakan kau menjaga komitmen atas namaku sebab siapa yang tau kembang desa tak kau rayu. Hingga bendera perang kembali berkibar. Telfon terakhir berakhir secepat itu. Kau lahirkan sosok pria yang katamu anak dari SMA sebelah yang menjadi alasan mengapa saya lama menjawab ajakan chatime. Tidak pernah ada siapapun dari sekolah manapun. Saya hanya tak pernah siap jatuh cinta kembali. Selamat, kau membuat jarak dipenuhi simbol tanda tanya.
Jika kau masih meragukanku, meragukan bahwa saya pernah menaruh hati pada sosok yang berbeda 4 tahun diatasku, maka biarkan kujelaskan kau pertemuan ketiga….dirumahku. Kau tau begitu besar egoku membencimu sebab kubuat jarak semakin kuat melalui kakak laki-lakiku. Kita berdua tau jika kita bertemu sekali lagi pukulan tangannya akan melayang bebas di wajahmu atau bahkan lambungmu. Nyatanya, setelah itu kita masih berani memutuskan untuk mencoba sekali hingga dua kali (lagi). Itu karena dibalik egoku yang besar, ada rasa yang begitu kuat. Saya mencintaimu dengan segala caramu bersama semua keraguan yang seharusnya tidak kau ciptakan. Saya kini mengibar bendera putih. Saya menulis bukan karena kau masih menjadi bagian, tidak. Semua ini buat jaga-jaga jika penjelasan akhirnya harus kita suratkan dan ini bukan pertanda kita harus bertemu dan berbicara setelahnya. Masa itu telah lama kita tinggalkan. Sebab kutemukan priaku dan kukira kau kini memiliki wanitamu. Tak usah khawatir, pria ini bisa kau percayai untuk menitipku. Kita memang harus kembali menjadi diri kita seperti diawal, stranger. Sukses selalu kak tetaplah terlindung dalam doa.
Salam.

Postingan populer dari blog ini

Left Unsaid

Duniamu-

Perkataan adalah doa