Halo tuan,
Apa kabar?
Kau terlihat baik-baik saja atau sedang berusaha baik-baik saja?
Ketawamu kini meledak, akun instagrammu kini aktif, kehadiranmu di sana tidak terlewatkan sekalipun. Ini berarti kau kembali ke orbitmu bukan? Bahwasanya kau skrg baik-baik saja, tanpaku.
Bisa berbagi rasa? Sedikit saja. Agar aku mampu sepertimu. Menjadi yang terlihat kuat ketika nyatanya kita retak sedemikian hebat. Sebab, beberapa menit setelah telfon dimatikan, saya masih berusaha menguatkan hatiku hingga kini; 11 April 2018.
Kau tau sesuatu? Kau berhasil tuan. Membentukku menjadi si-pencemburu-terhebat di jagat raya. Saya mencemburui tawamu bersama yang lain, bersama teman dekatku sekalipun. Saya mencemburui oleh-oleh yang tertuju kepada teman-mu dan -ku bukan kepada ibuku. Saya mencemburui kedatangan pertama yang kau urus adalah rumah keduamu, padahal duniaku sedang hancurnya atas namamu. Singkatnya, saya membutuhkan kehadiranmu. Saya mencemburui ke-ada-anmu hingga larut malam untuk mengawal padahal ke-ada-an untukku diteras rumah dengan panggilan khasmu semakin kesini semakin melapuk. Saya mencemburui dm instagrammu, yang kau cari keberadaannya dengan kata “dimana?” sedangkan sudah berbulan-bulan lamanya kau kini tak pernah lagi bertanya padaku. Sadarkah kau tentang ini? Ohiya maaf, akunmu sebenarnya masih log in sedari dulu. Cuma kau tau kan, saya ini juga pembohong terbesar tuan.
Sedikit lagi, saya ingin berbagi ingin. Saya ingin pergi jauh, ke pelosok diujung bumi. Saya ingin menjadi yang lain, apapun; jadi pesawat saja mungkin? Agar aku bisa pergi ke seberang dunia. Yang jelas, bukan menjadi diriku saat ini. Saya membencinya. Saya ingin memutar waktu, entah untuk mengulang, memperbaiki atau bahkan menghindarimu. Saya menginginkan semuanya yang mampu menjauhkanku darimu. Tapi bagaimana bisa kulakukan, jika isi kepalaku hanya berputar masih tentangmu?
Tuan, ini yang terakhir. Sesulit inikah mencintaimu?

Postingan populer dari blog ini

Left Unsaid

Duniamu-

Perkataan adalah doa