Postingan

Falling In Love At Chatime//

“I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much All of the while I never knew” Semoga selera kita sama. Entah itu musik ataupun buku. Nampaknya tidak untuk pasangan karena dibuktikan kita tidak pernah bisa menyatu. Berambut ombak, bertubuh tegak, berkulit putih dan bermata……..tuan maaf saya lupa warna retinamu. Tunggu, saya lupa atau saya memang tidak pernah berani menatapmu? “Liat mataku”  katamu . Haha okay saya memang tidak pernah berani menatap kedalam sana. Yang kutahu, aku akan tenggelam jauh jika berani melakukan itu. Sudah hampir satu tahun kita benar-benar memutuskan untuk saling menjauh. Tidak ada kau, aku dan kita. Kau pernah berkata “Siapa yang tahu saya dikirim tuhan untukmu sebagai media penasihat atau apapun itu”. Lalu jika kau adalah penyebab saya tidak berani menyentuh chatime waktu petang di hari kerja, gramedia pada waktu duhur dihari libur, fort rotterdam pada setiap event, fakultas ekonomi pada hari kuliah, masihkah kau berani...

Sepucuk Doa Untuk Ibu

Dear momme, Sudah tidak terhitung ya ini keberapa kalinya kita dihadapkan dengan segala diagnosa? Sudah tidak kondusifkah sekarang? Bisakah kutarik hipotesis bahwa kita sekarang diambang kerapuhan? Benteng seakan runtuh. Senjata kini tak setajam dulu. Panah yang selalu kita asah guna melawan apapun yang menghalau seakan berbalik menyerang tuannya. Pasukan serasa gugur satu persatu. Sedangkan musuh datang beruntutan menyerang satu titik; kita. Perang seakan tidak akan pernah berhenti atas nama kita. Mendung seakan selalu siap menjatuhkan segerombolan rintik hujannya. Dan hujan yang tidak tau diri selalu berkunjung tanpa mengenal situasi. Sedikit lagi, kita lumpuh. Tuhan, pinjamkan ibu saya benteng yang megah dan kokoh.

Terkadang-

Terkadang ada hal yang memaksa kita mengelus-ngelus dada untuk rasa yang berkecamuk. Memiliki tetapi terasa tidak memiliki. Membingungkan? Tidak, itu menyakitkan. Riuh langit dan bumi akhir tahun adalah sebuah perayaan bagi setiap orang. Api tercipta untuk santapan pelengkap pesta. Tawa dan cerita adalah rindu yang telah lama ingin dibenturkan. Teman adalah unsur terpenting dalam suatu perayaan. Semua nampaknya begitu ramai untuk kita lihat. Dan hanya dirikulah ruang yang paling sepi saat itu. Kau tau? Saya mencemburui siapapun yang sedang bersuka cita. Terserah, kau boleh mengutukku. Terkadang selalu ada ritual “Malam tahun baru sama si dia tidak?” Satu mimpi yang nampaknya harus dicoret tebal-tebal. Bukan karena alasan yang bertele-tele. Cukup dengan semua orang punya hidupnya masing-masing. Jika kalian masih tidak mengerti, jawabannya: tidak, saya tidak merayakannya dengan siapa-siapa. Terkadang memang selalu ada cerita yang tiba-tiba dirubah haluannya. Hal itu juga ...
Hal yang paling ingin kubedah saat ini adalah kepalamu. Mencari bagian puzzle yang hilang dan memperbaiki sistem yang tidak sinkron dengan milikku. Ada banyak tanda tanya yang hingga kini tidak cocok pasang dengan jawaban yang nyatanya miliknya sendiri. Riuhnya ‘jika’ bentrok dengan 'mungkin’. Salahkah aku jika memulai mengukur siapa yang paling?  Terlalu banyak hal bermetamorfosa menjadi zat baru yang berujung pada hipotesis. Berubahkah kini; “Probabilitas yang diprioritaskan” menjadi “Prioritas yang diprobabilitaskan” ?? Ataukah kau memang ingin mundur kali ini? Oh tidak, mungkin saja berhenti. Sebab, cahaya matamu kini redup, genggamanmu tidak lagi erat, responmu yang mulai memudar, dan kini punggungmupun sulit untuk kuketahui keberadaannya. Jika kita memang benar-benar berhenti, jangan biarkan “bertahan” dan “berjuang” tinggal di depan pintu. Sebab, saya juga ingin memutuskan untuk menutup pintu lagi atau tetap membiarkannya terbuka seperti itu.

Perkataan adalah doa

“Jika kau ingin saya menulis banyak tentangmu, patahkan hatiku.” Kau memang benar-benar ingin menjadi bagian tulisanku. Maka dari itu, kuberi selamat! Hatiku patah dengan tepat. Sudah sejauh ini, sayapun baru bertanya “Siapkah bersamaku?”. Desember memang selalu identik dengan perpisahan. Dan pada saat itulah, kau meyakinkan dirimu bahwa kau tidak siap. Dengan rasa hormat, kuberitahu kau sekali lagi. Untuk tiba pada hatimu saya mematahkan hatiku berkali-kali, hanya untuk berharap bisa menjadi yang terbaik bagi siapapun yg bersamaku kelak. Lalu untuk apa kalau memang tidak siap? Semoga kau paham perihal menerimamu sejak awal butuh sebulan lamanya, berjam-jam durasinya, seberantakannya otakku kudedikasikan untuk berpikir, yakin, merobohkan perbentengan, menyusun ulang kepercayaan dan kita hancur hanya dengan persoalan “tidak siap”. Tuhan, pertemuan ini lantas harus saya jadikan apa selain luka?

Left Unsaid

Saya adalah pelupa terbaik di muka bumi ini. Maka kali ini saya menulis bukan karena saya kehilangan. Melainkan untuk mengasah kembali ingatan bahwa faktanya saya kembali lagi, sebegitunya menyayangi seseorang. Pintu saya diketuk. Tuan datang bertamu dan memintaku untuk kembali keorbit. Sebab kau tau, 9 bulan lamanya pintuku tertutup dan aku memutuskan untuk menerima tamu tanpa membuka pintu. Kau datang menyuguhkan bingkisan yang bernama kepercayaan. Hingga tiba pada kau berhasil merobohkan segala benteng dan membuka pintu lalu menggenggam tanganku keluar dan berkata “dunia luar tidak sejahat apa yang kau kira”. Semenjak itu, saya kini mencintai langit. Setiap warna yang berbeda selalu mengingatkan pada setiap pertikaian kita dijalan. Langit selalu bisa menjadi teduh jika perang dingin mulai meluap. Semisal “liat langit, warnanya bagus hari ini” sialnya saya lalu tersenyum dan lupa bahwa tadi saya memutuskan untuk mendiamimu. Masih berpikir bahagiaku tidak sederhana? Semenjak i...

Duniamu-

Ini tentang duniamu. Lagi, semua gravitasi masih tentangmu. Kau hancur dan kini sedang memperbaiki, duniamu sendiri. Tahukah kau, ada dunia yang lain sibuk memikirkan duniamu. Dan sialnya, ia kini membantumu memperbaikinya tanpa sadar dunianya juga perlahan hancur berkeping. Tuan, Berbenahlah sesegera mungkin. Temukanlah kembali orbitmu yang lama. Gantilah langitmu dengan langit sore; selalu bergradiasi dan menenangkan. Kau terlalu larut dengan riuhnya kepala hingga kau lupa bahwa segala lukamu juga lukaku. Tidak usah meminta maaf, tanpa terucap kau akan selalu kumaafkan. Kau hanya sedang kehilangan jati dirimu. Tak apa, nikmati saja jika kau ingin. Toh dibalik luka selalu ada hikmah yang bisa kita tarik untuk jadi pelajaran hidup. Setelah ini, percaya padaku; kau akan menjadi sosok yang baru. Menjadi seseorang yang lebih dewasa dalam bersikap. Kau akan merasa seperti terlahir kembali. Kau akan memiliki benteng terkuat dan pastinya kau akan baik-baik saja. Sayangnya, itu tanpaku....