Saya adalah pelupa terbaik di muka bumi ini. Maka kali ini saya menulis bukan karena saya kehilangan. Melainkan untuk mengasah kembali ingatan bahwa faktanya saya kembali lagi, sebegitunya menyayangi seseorang. Pintu saya diketuk. Tuan datang bertamu dan memintaku untuk kembali keorbit. Sebab kau tau, 9 bulan lamanya pintuku tertutup dan aku memutuskan untuk menerima tamu tanpa membuka pintu. Kau datang menyuguhkan bingkisan yang bernama kepercayaan. Hingga tiba pada kau berhasil merobohkan segala benteng dan membuka pintu lalu menggenggam tanganku keluar dan berkata “dunia luar tidak sejahat apa yang kau kira”. Semenjak itu, saya kini mencintai langit. Setiap warna yang berbeda selalu mengingatkan pada setiap pertikaian kita dijalan. Langit selalu bisa menjadi teduh jika perang dingin mulai meluap. Semisal “liat langit, warnanya bagus hari ini” sialnya saya lalu tersenyum dan lupa bahwa tadi saya memutuskan untuk mendiamimu. Masih berpikir bahagiaku tidak sederhana? Semenjak i...
Ini tentang duniamu. Lagi, semua gravitasi masih tentangmu. Kau hancur dan kini sedang memperbaiki, duniamu sendiri. Tahukah kau, ada dunia yang lain sibuk memikirkan duniamu. Dan sialnya, ia kini membantumu memperbaikinya tanpa sadar dunianya juga perlahan hancur berkeping. Tuan, Berbenahlah sesegera mungkin. Temukanlah kembali orbitmu yang lama. Gantilah langitmu dengan langit sore; selalu bergradiasi dan menenangkan. Kau terlalu larut dengan riuhnya kepala hingga kau lupa bahwa segala lukamu juga lukaku. Tidak usah meminta maaf, tanpa terucap kau akan selalu kumaafkan. Kau hanya sedang kehilangan jati dirimu. Tak apa, nikmati saja jika kau ingin. Toh dibalik luka selalu ada hikmah yang bisa kita tarik untuk jadi pelajaran hidup. Setelah ini, percaya padaku; kau akan menjadi sosok yang baru. Menjadi seseorang yang lebih dewasa dalam bersikap. Kau akan merasa seperti terlahir kembali. Kau akan memiliki benteng terkuat dan pastinya kau akan baik-baik saja. Sayangnya, itu tanpaku....
“Jika kau ingin saya menulis banyak tentangmu, patahkan hatiku.” Kau memang benar-benar ingin menjadi bagian tulisanku. Maka dari itu, kuberi selamat! Hatiku patah dengan tepat. Sudah sejauh ini, sayapun baru bertanya “Siapkah bersamaku?”. Desember memang selalu identik dengan perpisahan. Dan pada saat itulah, kau meyakinkan dirimu bahwa kau tidak siap. Dengan rasa hormat, kuberitahu kau sekali lagi. Untuk tiba pada hatimu saya mematahkan hatiku berkali-kali, hanya untuk berharap bisa menjadi yang terbaik bagi siapapun yg bersamaku kelak. Lalu untuk apa kalau memang tidak siap? Semoga kau paham perihal menerimamu sejak awal butuh sebulan lamanya, berjam-jam durasinya, seberantakannya otakku kudedikasikan untuk berpikir, yakin, merobohkan perbentengan, menyusun ulang kepercayaan dan kita hancur hanya dengan persoalan “tidak siap”. Tuhan, pertemuan ini lantas harus saya jadikan apa selain luka?