Saya adalah pelupa terbaik di muka bumi ini. Maka kali ini saya menulis bukan karena saya kehilangan. Melainkan untuk mengasah kembali ingatan bahwa faktanya saya kembali lagi, sebegitunya menyayangi seseorang. Pintu saya diketuk. Tuan datang bertamu dan memintaku untuk kembali keorbit. Sebab kau tau, 9 bulan lamanya pintuku tertutup dan aku memutuskan untuk menerima tamu tanpa membuka pintu. Kau datang menyuguhkan bingkisan yang bernama kepercayaan. Hingga tiba pada kau berhasil merobohkan segala benteng dan membuka pintu lalu menggenggam tanganku keluar dan berkata “dunia luar tidak sejahat apa yang kau kira”. Semenjak itu, saya kini mencintai langit. Setiap warna yang berbeda selalu mengingatkan pada setiap pertikaian kita dijalan. Langit selalu bisa menjadi teduh jika perang dingin mulai meluap. Semisal “liat langit, warnanya bagus hari ini” sialnya saya lalu tersenyum dan lupa bahwa tadi saya memutuskan untuk mendiamimu. Masih berpikir bahagiaku tidak sederhana? Semenjak i...
“I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much All of the while I never knew” Semoga selera kita sama. Entah itu musik ataupun buku. Nampaknya tidak untuk pasangan karena dibuktikan kita tidak pernah bisa menyatu. Berambut ombak, bertubuh tegak, berkulit putih dan bermata……..tuan maaf saya lupa warna retinamu. Tunggu, saya lupa atau saya memang tidak pernah berani menatapmu? “Liat mataku” katamu . Haha okay saya memang tidak pernah berani menatap kedalam sana. Yang kutahu, aku akan tenggelam jauh jika berani melakukan itu. Sudah hampir satu tahun kita benar-benar memutuskan untuk saling menjauh. Tidak ada kau, aku dan kita. Kau pernah berkata “Siapa yang tahu saya dikirim tuhan untukmu sebagai media penasihat atau apapun itu”. Lalu jika kau adalah penyebab saya tidak berani menyentuh chatime waktu petang di hari kerja, gramedia pada waktu duhur dihari libur, fort rotterdam pada setiap event, fakultas ekonomi pada hari kuliah, masihkah kau berani...
Berawal dari kisah-kisah pendek membentuk sebuah cerita yang pada akhirnya hanya berupa kenangan. Mau tak mau, inilah akhirnya. Hanya kenangan tanpa dirimu. Setiap wanita akan memperjuangkan apapun agar semua tak hanya menjadi kenangan saja. Menunggu, bersabar, berdoa, dan berdiam diri melihat sosok yang ia sayangi merangkul wanita lain. Itulah perjuangan. Tak selamanya perjuangan harus begitu nyata didepan orang-orang. Begitupun aku, berjuang didepan Tuhan bukan depan mereka. Berjuang dalam keheningan malam dan mendoakannya agar tetap menjadi orang yang baik bagi wanita yang bersamanya saat ini. Tuhan tau aku sedang berjuang. Berjuang meracuni masa lalu kita. Masa lalu kita memang pantas untuk diracuni. Jika perlu bunuh saja. Karena aku tau, masa lalu memang tak pantas untuk dilihat lagi. Bagaimana menurutmu? Pria yang kumaksud mungkin sedang membaca blogku. Tapi entahlah, masa lalu itu berarti bagiku, meskipun hanya berujung sesak. Perahu kertasku, berisikan tulisan k...