perahu kertasku
Berawal dari kisah-kisah pendek
membentuk sebuah cerita yang pada akhirnya hanya berupa kenangan. Mau tak mau,
inilah akhirnya. Hanya kenangan tanpa dirimu. Setiap wanita akan memperjuangkan
apapun agar semua tak hanya menjadi kenangan saja. Menunggu, bersabar, berdoa,
dan berdiam diri melihat sosok yang ia sayangi merangkul wanita lain. Itulah
perjuangan. Tak selamanya perjuangan harus begitu nyata didepan orang-orang.
Begitupun aku, berjuang didepan Tuhan bukan depan mereka. Berjuang dalam
keheningan malam dan mendoakannya agar tetap menjadi orang yang baik bagi
wanita yang bersamanya saat ini.
Tuhan tau aku sedang berjuang. Berjuang meracuni masa lalu
kita. Masa lalu kita memang pantas untuk diracuni. Jika perlu bunuh saja.
Karena aku tau, masa lalu memang tak pantas untuk dilihat lagi. Bagaimana
menurutmu? Pria yang kumaksud mungkin sedang membaca blogku. Tapi entahlah,
masa lalu itu berarti bagiku, meskipun hanya berujung sesak.
Perahu kertasku, berisikan tulisan konyol yang lagi
menggosipi dirimu. Kata-kata yang kurangkai satu persatu membentuk cerita. Cerita
yang berasal dari kisahku. Kisah yang tak terlalu perlu kamu renungkan
kayaknya. Ya! Kisah yang tak patut kamu lihat kembali. Tapi aku menulisnya,
menulis kisah kita pada kertas kecil. Kubuat ia seperti perahu. Kubiarkan ia
mengarungi dunia, meskipun tujuanku adalah kamu. Aku bukanlah nahkoda
dari perahu itu. Biarlah gelombang air yang menjadi nahkodanya. Kuizinkan
ia berlabuh semaunya. Membawa ceritaku sejauh mungkin agar dunia tau aku
menantimu.