Hujan Kita
Bulan telah menggantikan tugas matahari. Hari berganti hari
demi hari. Musim kadang berganti. Tapi
namamu takkan terganti nampaknya. Hari ini kotaku diguyur hujan. Takut dan
dingin yang kurasa. Aku benci suara air hujan yang jatuh di atap rumah.
Entahlah, benci saja rasanya. Aku kedinginan dan tiba-tiba aku membutuhkanmu. Butuh kamu yang sering
memelukku dari kejauhan. Butuh kamu yang meredakan rasa takutku. Kemana sosok
yang perduli itu? Mungkin sedang bersama jiwa yang lain. Hujan lagi senang bertahan
dari sejam yang lalu, mengguyur kota kita.
Malam ini, perasaanku campur aduk dan pasang surut. Kadang
melupakanmu, kadang membencimu, kadang masih mencintaimu. Aku rindu hujan kita.
Hujan yang menjadi saksi bisu dimana kamu menenangkanku ketika semilir angin
menghembus datang menggoyangkan daun pepohonan menemani hujan. Kamu datang
menenangkanku dari kejadian alam itu dan berkata bahwa engkau ada untukku. Dengan
manisnya kamu berkata ada untukku, tapi tak pernah kamu buktikan. Kata yang
dulunya mampu mengukir lengkungan U pada bibirku kini hanya menjadi air mata. Kejadian
kejadian hanya berupa kenangan. Kenangan
yang hanya mampu melukai hati.
Ini bukan pertama kalinya aku berkata rindu. Ini untuk
kesekian kalinya aku berkata rindu pada blogku, bukan padamu. Sakit ketika aku
hanya mampu merindukanmu melalui kata-kata yang tak mampu sampai padamu. Untuk
apa berkata rindu jika jarak kesepian ini tak terlalu mengganggumu
sepertiku. Sedihya, ketika aku
merindukanmu malah kamu yang merindukan orang lain. Aku yang menulisnya
untukmu, malah kamu berikan pada orang lain.
Akhir-akhir ini aku bersikap aneh dan sering terserang maag.
Apalagi kalau bukan karena tidak makan yang teratur. Ini terjadi setelah kepergianmu. Tak ada lagi
yang mengingatkanku untuk makan setelah perpisahan itu. Tak ada lagi yang
menyuruhku menghadap tuhan selain diriku sendiri. Dulu ada kamu! Yaa,kini aku
sendiri. Melakukan semuanya sendiri tanpa kamu. Menghabiskan waktuku hanya untuk menulis tentangmu tanpa memikirkan kondisiku.
Bodoh! Apa perdulimu?! Tak ada kan? Bahkan jika aku terjatuh dihadapanmu,
mungkin tatapan mengejek yang aku terima. Menyebalkan aku berkata begitu?
Jangankan untuk menolongku, saat kita akan berpapasan saja kamu malah
menghindar. Ini yang mereka sebut kita saling cinta? Ini bukan saling cinta, tapi
hanya aku yang mencintaimu .
Hujan
takkan pernah berhenti mengingatkanku pada hujan kita