halo imaji

“Apa ini” mungkin inilah yang patut untuk kau tau. Bimbang, emosi, dan terpenjara di antara milyaran penduduk kota ini. Aku yang tak pernah meminta banyak hal. Hanya jangan telat makan dan kecapean. Dan aku bahkan tak pernah memintamu untuk mendengarkan setiap lirih yang tercipta karenamu. Aku tau kau sedang berada dirasa hidup yang asam. Bahkan kuterima bentakanmu dengan ringkih. Maafkan aku, silahkan mengoceh. Kumohon untuk tetap tinggal. Masih banyak yang ingin kuselesaikan.

Aku memang bukan pujangga yang mampu menulis setiap kata indah untukmu. Aku bahkan bukan pencipta lagu yang mampu menyihir sebuah kata menjadi syair yang indah. Aku memang tak bisa apa-apa. Berdoa di tengah indahnya dunia. Berada dalam seluruh sisi gelap hidupku. Terjaga disaat bulan sedang bermain, dan terlelap diantara orang-orang yang bangkit bersama matahari. Kamu, yang tak pernah ada habisnya untuk selalu kujabarkan.

Kini kau pergi, setelah kita telah bermain-main dalam warna papan catur. Hitam dan putih. Berselimut diantara membaranya jiwa. Ketika kau harus menjadi visualisasi yang terpatri. Menjadi segalanya, waktu, alasan, sesak, bahkan sisi gelap. Semua yang telah tertanam dengan peluh, kau hancurkan secara perlahan. Kau potong setiap bagiannya, tapi kau lupa untuk mencabut akarnya. Mau tak mau ini yang akhirnya harus kusaksikan, kehancuranku yang terlumpuhkan. Ketidakdilan menyebabkan sembab dan membekukan malam. Kita adalah semu.


Selalu kuharapkan, setiap kerjapan mataku akan menghasilkan perubahan yang baru. Tidak. Kau malah makin hidup dalam imaji disaat bulan telah merekah. Semua lebih jelas setelah kau membangun hal yang baru bersama yang lain. Semua jelas, ini salah.

Postingan populer dari blog ini

Left Unsaid

Duniamu-

Perkataan adalah doa