Kamu....Titik Hilang dari Penggambaranku.

Inilah akhirnya,tiba pada masanya. Masa dimana kujatuh dilubang yang berbeda,tapi kini lebih dalam. Hal yang paling aku takutkan sejak angka 9 terpasang dikalender handphoneku, akhirnya benar-benar terjadi. Terjadi begitu nyata, hadir dengan menyakitkan. Kupikir kamulah yang akhirnya berperan sebagai malaikat, bukan yang malah menghempaskanku jauh lebih dalam.

Semua harus berhenti. Berhenti disaat yang sebenarnya bukan pada tahap finishing. Ketika sejak awal aku tak  begitu mencintaimu, harusnya kupertahankan rasa itu. Bukan malah membiarkannya tumbuh di pertengahan ketika kita nyatanya tak bisa bersatu. Bodoh! Ya kan?

Firasat yang sejak dulu sudah ada, menghantui tapi ku acuhkan. Seandainya saja aku bisa melihat masa depan, siapa sih yang terlalu bodoh untuk mau terus melangkah jika pada akhirnya hanya berujung sesak yang sangat dalam? Aku hanya manusia biasa, tetap menjalani hidup dengan khayalan konyol dan terus berharap kita bisa kembali seperti dulu. Khayalan-khayalan yang kutata rapi dan telah kusiapkan jauh lebih lama kedepan, akhirnya harus kututup dengan alasan yang begitu kuat.

Seandainya saja sejak pertama aku tak mengikutimu, aku tak akan tiba ditempat ini. Tempat yang begitu sesak dari kegelapanku yang dulu.  Seandainya saja dulu kamu tak terlalu panjang lebar atas permintaan maafku, aku tak akan tiba di rasa ini. Rasa yang seperti memiliki kenangan dari beberapa barisan kalimat-kalimatmu. Seandainya saja kamu tak menaruh perhatian untukku, aku tak akan menjadi seperti agen mata-mata untuk melepas rasa ingin tahuku. Seandainya saja kamu tak selalu datang di setiap malamku, aku mungkin tak akan tiba di malam ini. Malam yang ku sebut malam sesak. Berbicara kata “andai” tak merubah situasi, ia hanya menjelaskan. Dan itu tujuanku.


Kukira kali ini aku berada dipendapat yang benar, dan kukira aku berada pada posisi pria yang patut aku perjuangkan karena sifat pribadinya. Lagi, semua diluar rencana. Lingkaran malaikat dikepalamu seakan berubah menjadi tanduk di mataku. Harusnya memang dari dulu aku tak mengikuti jejak kehidupanmu. Harusnya memang aku sadar kita berada dalam zona pertemanan bukan yang saling mencintai. Lagi, aku salah untuk kesekian kalinya. Harusnya sejak dulu aku menyadari, bahwa kamu bukan titik pandang dalam setiap penggambaranku. Harusnya aku tau, kamu adalah bagian titik hilang yang hanya membantu tahap penggambaran yang buruk.

Postingan populer dari blog ini

Left Unsaid

Duniamu-

Perkataan adalah doa