Hujan Kita
Bulan telah menggantikan tugas matahari. Hari berganti hari demi hari. Musim kadang berganti. Tapi namamu takkan terganti nampaknya. Hari ini kotaku diguyur hujan. Takut dan dingin yang kurasa. Aku benci suara air hujan yang jatuh di atap rumah. Entahlah, benci saja rasanya. Aku kedinginan dan tiba-tiba aku membutuhkanmu. Butuh kamu yang sering memelukku dari kejauhan. Butuh kamu yang meredakan rasa takutku. Kemana sosok yang perduli itu? Mungkin sedang bersama jiwa yang lain. Hujan lagi senang bertahan dari sejam yang lalu, mengguyur kota kita. Malam ini, perasaanku campur aduk dan pasang surut. Kadang melupakanmu, kadang membencimu, kadang masih mencintaimu. Aku rindu hujan kita. Hujan yang menjadi saksi bisu dimana kamu menenangkanku ketika semilir angin menghembus datang menggoyangkan daun pepohonan menemani hujan. Kamu datang menenangkanku dari kejadian alam itu dan berkata bahwa engkau ada untukku. Dengan manisnya kamu berkata ada untukku, tapi tak pernah kamu...